Pages

Minggu, 27 November 2011

Cara mengatasi Bad Sector Pada Hardisk


Penyebab terjadinya Bad Sector pada harddisk disebabkan oleh :

1. Komputer tidak di shutdown secara normal, mungkin karena hang, crash, super lemot, sehingga kita terpaksa menekan tombol restart pada casing.
2. Komputer kita sering dipindah-pindah, atau digeser-geser padahal komputer sedang menyala, akibatnya terjadi getaran sehingga membuat head (pembaca pada harddisk) menggores piringan harddisk.

Akibat yang ditimbulkan jika Harddisk terdapat Bad Sector :

1. Jika bad sector pada harddisk sudah terlampau banyak, biasanya harddisk tidak dapat diisi oleh System Operasi, sehingga tidak bisa dipakai sebagai harddisk master.
2. Komputer sering merestart sendiri baik pada saat booting atau pada waktu menyala
3. Komputer sering terjadi hang atau BSOD
4. Komputer menjadi lambat atau super lambat, ini disebabkan kesulitan head harddisk membaca data pada piringan harddisk (contohnya kita membuka CD yang sudah penuh goresan, maka otomatis CD Rom akan sulit membaca CD tersebut)

Cara Menghilangkan/Memperbaiki Bad Sector pada Harddisk

Disini saya akan menggunakan salah satu program yang pernah saya coba yakni HDD Regeneration, jika anda belum punya software tersebut silahkan download di sini .
Jika anda sudah mendownloadnya, install program tersebut, kemudian jalankan program tersebut. Berikut tahapan memperbaiki bad sector pada harddisk :
  • Sebaiknya anda memperbaiki harddisk yang ada bad sector-nya di komputer lain. (karena biasanya yang terdapat bad sector itu drive di mana sistem disimpan)
  • Jalankan program HDD Regenerator.
  • Setelah itu pilih pilihan Click here to repair physical bad sectors on damaged drive surface directly under Windows (XP/Vista)
bad sector 
  • lalu pilih harddisk yang akan kita perbaiki (jika kita memperbaikinya di komputer lain, maka pilihlah harddisk kedua), lalu tekan Start Process.
bad sector 
  • lalu setelah itu anda akan masuk ke mode DOS, tekan tombol 1 untuk memperbaiki harddisk, lalu tekan enter.
badsector 
  • Selanjutnya tentukan dari sector mana anda akan memperbaiki, masukkan saja tombol 0untuk memperbaiki sektor dari awal harddisk. lalu tekan enter.
badsector4
  • Berikutnya proses perbaikan bad sector dimulai tunggu sampai selesai.
  • Jika anda ingin membatalkan proses ini tekan saja tombol ESC.
Jika setelah proses perbaikan bad sector harddisk, masih terdapat bad sector maka kemungkinan besar harddisk anda sudah terlalu banyak bad sectornya.
Sekian dan terima kasih…

Standar IEEE 802


Standar IEEEE 802

Tutorial membuat koneksi internet melalui bluetooth di PC atau Laptop menggunakan LInux & Windows


Tips Dan Trik Membuat Koneksi Internet Melalui Bluetooth Ponsel


By : Tomi Kurniawan 

Kode-kode Provider untuk Setting Internet di PC


1. Telkomsel (Data)
APN : internet / telkomsel
usr : wap
pass : wap123
2. Telkomsel ( Durasi )
APN : flash
usr : (dikosongkan)
pass : (dikosongkan)
3. Indosat (data)
APN : indosatgprs
usr : indosatgprs / indosat
pass : indosatgprs / indosat
4. Indosat (Durasi)
APN : indosatgprs
usr : indosat@durasi
pass : indosat@durasi
5. XL Unlimited
APN : xlunlimited
usr : (dikosongkan)
pass : (dikosongkan)
6. XL Internet
APN : www.xlgprs.net
usr : xlgprs
pass : proxl
7. 3data
APN : 3data
usr : 3data
pass : 3data
8. AXIS
APN : axis
usr : axis
pass : 123456
9. Flexi (data)
usr : Telkomnet@flexi
pass : telkom
10. Flexi (durasi)
usr : Telkomnet@instan
pass : telkom
GSM = *99# atau *99***1#
CDMA = #777 atau 080989999

Istilah-istilah dalam Cabling

A. Kabel Horizontal
Kabel horizontal yang paling sering diimplementasikan yaitu 100 ohm, 4 pair UTP, kabel solid konduktor seperti yang ditentukan dalam standar ANSI/TIA/EIA 568 untuk komersial bangunan. Standar ini juga menyediakan untuk pemasangan kabel horizontal yang diimplementasikan dengan 62.5/125 micron atau 50/125 micron untuk serat optik multimode. Juga 150 ohm pada kabel STP, tetapi tidak direkomendasikan untuk installasi saat ini. Kabel horizontal dijalankan antara cross-connectpanel dalam 1 wiring closet & wall jack. Kabel coaxial bukan termasuk kabel horizontal.

B. Kabel Backbone
Kabel backbone dapat diimplementasikan dengan menggunakan 100 ohm UTP, 62.5/125 micron atau 8.3/125 micron untuk fiber optik singlemode. Kabel STP dan coaxial termasuk kabel backbone. Kabel backbone yaitu dari wiring closet menuju server utama.

C. Cable Tray
Cable Tray ini fungsinya sama hampir sama dengan Cable Conduit. Perbedaannya adalah terletak pada fungsi dalam melakukan reparasi atau perbaikkan kabel. Jika kita lihat pada Cable Conduit, semua bagian kabel tertutp seutuhnya. Ini akan mengakibatkan kesulitan saat hendak memperbaiki kabel yang ada di dalamnya. Namun hal ini MUNGKIN tidak akan terjadi pada Cable Tray. Karena Cable Tray lebih terlihat bagian kabelnya, jadi akan mempermudah dalam memperbaiki kabel yang mengalami kerusakan. Kabel diletakkan dalam tray sehingga mudah diperbaiki & dipelihara. Namun tetap saja ada kekurangannya. Cable Tray sangat rentan terhadap gangguan eksternal. Walaupun tetap dapat melindungi kabel, namun kemungkinan kabel mengalami kerusakan lebih besar.Kabel tray meneglola kabel secara horizontal. Standar ANSI/TIA/EIA 569 A menyediakan kabel tray untuk kabel horizontal dan kabel backbone.




D. Wiring Closet
Wiring closet dapat diibaratkan dengan tempat seluruh kabel bermuara. Wiring closet yaitu sebuah ruangan kecil yang ditemukan pada bangunan institusional, seperti sekolah dan kantor, di mana sambungan antar kabel dilakukan. Ada 2 jenis wiring closet yaitu ruang telekomunikasi dan ruang peralatan. Digunakan untuk berbagai tujuan, fungsi mereka yang paling umum adalah untuk jaringan komputer. Banyak jenis tempat koneksi jaringan batasan jarak antara peralatan, seperti komputer pribadi, dan perangkat akses jaringan, seperti router. Jarak antara ruangan tersebut dan perangkat maksimum 90 m. Wiring closet harus terletak didekat pusat daerah maintenence.


E. Conduit
Conduit adalah sistem perpipaan listrik yang digunakan untuk perlindungan dan routing kabel listrik . Conduit dapat terbuat dari logam,plastik , serat , atau bisa dari tanah liat . Conduit Fleksibel tersedia untuk tujuan khusus.
Conduit umumnya dipasang di lokasi pemasangan peralatan listrik. Penggunaannya, bentuk, dan rincian instalasi sering ditentukan oleh peraturan kelistrikan, seperti Amerika Serikat NEC atau kode nasional atau lokal lainnya.
Instalasi penerangan listrik awal memanfaatkan pipa gas yang ada untuk peralatan gas cahaya (dikonversi ke lampu listrik). Karena teknik ini memberikan perlindungan yang sangat baik untuk jaringan kabel interior, itu diperluas ke semua jenis kabel interior dan oleh kopling awal abad ke-20 tujuan-dibangun dan fitting yang diproduksi untuk penggunaan listrik. Conduit digunakan untuk menjaga kabel. Conduit yang diisi kabel maksimal 60% dari keseluruhannya sedangkan 40% digunakan untuk perbaikan. Conduit tidak disarankan dipasang antar kabel komunikasi & kabel listrik tanpa penghalang listrik diantaranya. Karena jelas berbahaya.



F. Patch Panel
Patch cable adalah segmen kabel UTP yang dipakai untuk menghubungkan kartu interface jaringan ke wall jack atau untuk menghubungkan bagian-bagian lain dari instalasi kabel jaringan ini.
Patch panel merupakan panel penghubung yang menyediakan multi port yang menyalurkan kabel-kabel ke piranti-piranti atau hardware penghubung lainnya seperti switch.


G. Wall Plate
Wall plate adalah flat metal atau flat plastic yang berada didalam atau luar dinding. Wall plate mencakup 1 atau lebih konektor. Wall plate mengijinkan workstation untuk membuat koneksi fisik & listrik untuk pengkabelan jaringan. Standar ANSI/TIA/EIA 568 B bahwa panjang maksimum dari workstation ke kabel patch 5M. Serta menjauhkan dari sumber panas yang bisa merusak konektor. Wall plate bisa dipasang secara horizontal atau vertical.




H. IDC
IDC (Insulation Displacement Connector) yaitu sebuah alat yang mempunyai seperti gigi tajam atau pin konektor untuk menekan kabel UTP. Gigi tersebut menusuk insulasi luar pada kabel & membuat kontak dengan konduktor didalamnya & membuat koneksi.








I. Caddy Cat Trax
Tempat kabel yang mudah karena menggunakan jaring sebagai tempat penyangga.



J. Sistem runaway.
Sistem runaway yang digunakan adalah menggantungkan kabel-kabel dengan rak tangga untuk mengatur kabel diruang peralatan

K. Raceways
Raceways adalah tipe horizontal dari conduit yang digunakan untuk pemasangan kabel & biasanya disatukan secara modular dengan vendor penyedia konektor melebihi radius minimum. Raceways dipasang diluar dinding-dinding ditempat dimana kabel susah untuk dipasang dalam dinding.

Sabtu, 19 November 2011

Routing dalam network

Routing

Rabu, 16 November 2011

3 Fakta Aneh di Microsoft WINDOWS

Hasil ngaskus :


1. Tidak ada seorangpun yang dapat membuat sebuah folder dengan nama "Con" - Coba kalian buat di mana saja di hard disk anda, sebuah folder dengan nama "Con" (tanpa tanda kutip). Klik saja di sembarang tempat sub-menu new folder. Kemudian coba anda namain folder tersebut dengan nama "Con". Anda akan menyadari bahwa folder tersebut tidak akan bernama "Con", melainkan "New Folder"..



Keanehan ini pertama kali ditemukan sama orang India, dia menemukan bahwa tidak ada seorang pun yang dapat membuat FOLDER di komputer dengan program Microsoft manapun dengan judul folder "CON". Ini merupakan hal nyata dan seluruh kru Microsoft sendiri tidak dapat menjawabnya kenapa hal ini bisa terjadi. Cobalah dengan membuat sebuah folder dengan nama CON atau con.

Bukalah My Document -> File -> New -> Folder -> ketik CON atau Con atau con

Apa yang terjadi?

Sebenarnya kru Microsoft bisa menjelaskan hal ini. Karena hal ini berhubungan dengan system numerik jaman dulu (DOS system). Cobalah nama berikut:
* PRN
* AUX
* NUL
* LPT1
* COM1
* Potential drive letter, seperti A: sampai Z:
* coba cari hal lainnya yang berhubungan dengan system numerik-nya DOS

Jelas, kalo DOS merupakan sistem operasi dasar dari WINDOWS, sehingga sistem secara default menghindari penamaan dengan menggunakan kata-kata diatas, hal ini juga berlaku bukan hanya untuk folder, tetapi juga untuk penamaan file, coba jajal rename file (misal) contoh.doc menjadi PRN atau prn, kemudian enter...hal serupa pun pasti akan terjadi.

Karena ini cuma berlaku buat OS turunan DOS, jadi ke OS selain itu (sperti LINUX) hal tersebut gak akan berlaku!


2. Coba anda buka Notepad. Kemudian coba ketik "Bush hid the facts" lalu save dan exit. Setelah itu, anda buka kembali file tersebut dan apa yang anda ketik tidak muncul..


'Bush hid the facts' : sebenarnya ini berhubungan "generate" notepad sendiri.. (yaitu "ANSI")

Hal yang sama juga terjadi jika kita menuliskan kalimat apa saja dengan pola 4-3-3-5, seperti 'this api can break', 'this cat can split', 'jane can not dance', 'saya ama dia temen' akan mengalami hal serupa dengan yang disebut diatas.

Hal ini terjadi karena sebelum membuka berkas tersebut, Notepad berusaha untuk mendeteksi encoding yang digunakan. Ternyata proses deteksi ini mengalami kesalahan jika berkas yang dimaksud mengandung kalimat dengan pola 4-3-3-5 karakter. Akibatnya berkas yang disimpan dalam encoding ANSI tersebut dibuka dalam encoding UTF-16.

Adanya hal ini sebenarnya membuktikan masih ada celah, yang sukar diperbaiki. Dan dengan statemen seperti ini, kita bisa jadi provokator yang handal untuk menjatuhkan microsoft yang ternyata gagal menyempurnakan program 'sesederhana' notepad.....Cool

Jadi ini jelas sebuah error...bukan konspirasi seperti kebanyakan pendapat yang beredar...hahaha

Tapi error ini tidak berlaku untuk windows tipe lama... coba jajal lakukan hal serupa di Windows 95

Oh iya hal ini gak berlaku untuk pola 4-3-3-5 menggunakan numerik, misal 1234 123 123 12345 atau 0000 000 000 00000


3. Ketik di MS Word: "=rand(200,99)" (tanpa tanda kutip) dan saksikan keajaiban..


Hal yang menarik ini, sungguh aneh! Bahkan Bill Gates sendiri tidak menemukan jawabannya kenapa ini bisa terjadi! Hal ini malah ditemukan oleh orang Brazil. Coba deh!

1)Buka program Microsoft Word dan ketik: =rand (200, 99)
2) kemudian anda ENTER
Apa yang anda temukan? Menarik bukan? coba aja.....

Sebenarnya ini system default, dan memang salah satu fungsi yang ada pada word, kegunaannya adalah untuk membuat sample text dengan cepat (seperti "lorem ipsum" seperti yang digunakan oleh penggiat web), lihat contoh dibawah :

=rand(1) -> memasukkan lima kalimat dalam satu paragraf
=rand(1,1) -> memasukkan satu kalimat dalam satu paragraf
=rand(1,2) -> memasukkan dua kalimat dalam satu paragraf
=rand(2) -> memasukkan lima kalimat dalam dua paragraf
=rand(2,1) -> memasukkan satu kalimat dalam dua paragraf
=rand(10) -> memasukkan lima kalimat dalam sepuluh paragraf
=rand(10,1) -> memasukkan satu kalimat dalam sepuluh paragraf
=rand(10,10) -> memasukkan sepuluh kalimat dalam sepuluh paragraf

Untuk ngeliat patokan sebuah paragraf dengan tanda (¶) dalam sebuah dokumen Word, lakukan salah satu langkah dibawah:
-di Standard toolbar, klik Show/Hide (¶).
-di menu Tools, klik Options. Kemudian klik tab View, klik di check box "All" di bagian Formatting Marks, dan kemudian klik OK

Sedangkan untuk "si rubah malas" (The quick brown fox jumps over the lazy dog) itu untuk menguji font. kalau biasa mendesign di corel atawa yang sejenisnya pasti tahu deh. Atau coba lihat di Control Panel -> Fonts, trus coba double klik salah satu file font (.ttf) yang ada disitu....sama kan???

Untuk hal ini bisa langsung dilihat di http://support.microsoft.com/kb/212251.

Semoga bermanfaat.



Sabtu, 12 November 2011

Cara mengitung VLSM

Jumat, 11 November 2011

Cara Mencari IP Network, Host min, Host max, Broadcast, Hosts/net Dalam Format Decimal


Sebelum kita mulai menghitung, ada cara untuk Mencari IP Network, Host min, Host max, Broadcast, Hosts/net Dalam Format Decimal.

Yaitu : IP address dan subnet mask kita ubah dulu ke bilangan biner. lalu jika telah selesai di AND kan.. Materi AND silahkan Anda lihat di posting blog saya yang lain :)





bit IP  : 0-7. 8-15 . 16-23 . 24-31
net prefix: 8 . 16 . 24 . 32

Classful IP Address:
class A : 1.0.0.0  s/d 126.255.255.255
class B : 128.0.0.0 s/d 191.255.255.255
class C : 192.0.0.0 s/d 223.255.255.255

Netmask default:
class A : /8(netprefix) atau 255.0.0.0
class B : /16(netprefix) atau 255.255.0.0
class C : /24(netprefix) atau 255.255.255.0


Rumusan:
IP = oct1 . oct2 . oct3 . oct4
Netmask = mask_oct1 . mask_oct2 . mask_oct3. mask_oct4
Wildcard = 255.255.255.255 - Netmask
net1 = int(oct1:(256-mask_oct1)x(256-mask_oct1)
net2 = int(oct2:(256-mask_oct2)x(256-mask_oct2)
net3 = int(oct3:(256-mask_oct3)x(256-mask_oct3)
net4 = int(oct4:(256-mask_oct4)x(256-mask_oct4)
Network = net1.net2.net3.net4
Broadcast = Network + Wildcard
Host min = Network + 0.0.0.1
Host max = Broadcast - 0.0.0.1
Host/net = (2^(32-netprefix))-2

Catatan:
Network: nilai oct4 harus genap
Host min: nilai oct4 harus ganjil
Host max: nilai oct4 harus genap
Broadcast: nilai oct4 harus ganjil
Contoh:

1) Nilai netprefix berada dalam range: /24 < netprefix < /32

a) IP = 118.98.176.214/30
32-30=2 -> 2^2=4 -> 256-4=252
Netmask: 255.255.255.252

Wildcard = 255.255.255.255 - 255.255.255.252 = 0.0.0.3
Network:
net1 = int(118:(256-255))x(256-255)  = 118
net2 = int(98:(256-255))x(256-255)  =  98
net3 = int(176:(256-255))x(256-255)  = 176
net4 = int(214:(256-252))x(256-252)  = 212
=>   = 118.98.176.212
Broadcast: 118.98.176.212 + 0.0.0.3 = 118.98.176.215
Host min: 118.98.176.212 + 0.0.0.1   = 118.98.176.213
Host max: 118.98.176.215 - 0.0.0.1   = 118.98.176.214
Hosts/net: (2^(32-30))-2   = 2


b) 118.98.176.214/29

32-29=3 -> 2^3=8 -> 256-8=248
Netmask: 255.255.255.248

Wildcard = 255.255.255.255 - 255.255.255.248 = 0.0.0.7
Network:
net1 = int(118:(256-255))x(256-255)   = 118
net2 = int(98:(256-255))x(256-255)     =   98
net3 = int(176:(256-255))x(256-255)   = 176
net4 = int(214:(256-248))x(256-248)   = 208
=>   = 118.98.176.208
Broadcast: 118.98.176.208 + 0.0.0.7 = 118.98.176.215
Host min: 118.98.176.208 + 0.0.0.1  = 118.98.176.209
Host max: 118.98.176.215 - 0.0.0.1  = 118.98.176.214
Hosts/net: (2^(32-29))-2

2) Nilai netprefix berada dalam range: /16 < netprefix < /24

a) 118.98.176.214/22
24-22=2 -> 2^2=4 -> 256-4=252
Netmask: 255.255.252.0

Wildcard = 255.255.255.255 - 255.255.252.0 = 0.0.3.255
Network:
net1 = int(118:(256-255))x(256-255)  = 118
net2 = int(98:(256-255))x(256-255)  = 98
net3 = int(176:(256-252))x(256-252)  = 176
net4 = int(214:(256-0))x(256-0)   = 118.98.176.0
Broadcast: 118.98.176.0 + 0.0.3.255 = 118.98.179.255
Host min: 118.98.176.0 + 0.0.0.1 = 118.98.176.1
Host max: 118.98.179.255 - 0.0.0.1= 118.98.179.254
Hosts/net: (2^(32-22))-2 = 1022


b) 118.98.176.214/21

24-21=3 -> 2^3=8 -> 256-8=248
Netmask: 255.255.248.0

Wildcard = 255.255.255.255 - 255.255.248.0 = 0.0.7.255
Network:
net1 = int(118:(256-255))x(256-255)   = 118
net2 = int(98:(256-255))x(256-255)     =   98
net3 = int(176:(256-248))x(256-248)   = 176
net4 = int(176:(256-0))x(256-0)   =  0
=> = 118.98.176.0
Broadcast: 118.98.176.0 + 0.0.7.255 = 118.98.183.255
Host min: 118.98.176.0 + 0.0.0.1 = 118.98.176.1

Host max: 118.98.183.255 - 0.0.0.1 = 118.98.183.254
Hosts/net: (2^(32-21))-2= 2046


3) Nilai netprefix berada dalam range: /8 < netprefix < /16

a) 118.98.176.214/14
16-14=2 -> 2^2=4 -> 256-4=252
Netmask: 255.252.0.0

Wildcard = 255.255.255.255 - 255.252.0.0 = 0.3.255.255
Network:
net1 = int(118:(256-255))x(256-255) = 118
net2 = int(98:(256-252))x(256-252)  = 96
net3 = int(176:(256-0))x(256-0)   =  0
net4 = int(214:(256-0))x(256-0)   = 0
=>= 118.96.0.0
Broadcast: 118.96.0.0 + 0.3.255.255 = 118.99.255.255
Host min: 118.96.0.0 + 0.0.0.1 = 118.96.0.1
Host max: 118.99.255.255 - 0.0.0.1 = 118.99.255.254
Hosts/net: (2^(32-14))-2   = 262142


b) 118.98.176.214/13

16-13=3 -> 2^3=8 -> 256-8=248
Netmask: 255.248.0.0

Wildcard = 255.255.255.255 - 255.248.0.0 = 0.7.255.255
Network:
net1 = int(118:(256-255))x(256-255)  = 118
net2 = int(98:(256-248))x(256-248)  = 96
net3 = int(176:(256-0))x(256-0)  = 0
net4 = int(214:(256-0))x(256-0)  = 0
=> = 118.96.0.0

Broadcast: 118.96.0.0 + 0.7.255.255 = 118.103.255.255
Host min: 118.96.0.0 + 0.0.0.1  = 118.96.0.1
Host max: 118.103.255.255 - 0.0.0.1 = 118.103.255.254
Hosts/net: (2^(32-13))-2   = 524286

Kamis, 10 November 2011

Subnetting & Supernetting

Subnet mask adalah istilah teknologi informasi dalam bahasa Inggris yang mengacu kepada angka biner 32 bit yang digunakan untuk membedakan network ID dengan host ID, menunjukkan letak suatu host, apakah berada di jaringan lokal atau jaringan luar.
RFC 950 mendefinisikan penggunaan sebuah subnet mask yang disebut juga sebagai sebuah address mask sebagai sebuah nilai 32-bit yang digunakan untuk membedakan network identifier dari host identifier di dalam sebuah alamat IP. Bit-bit subnet mask yang didefinisikan, adalah sebagai berikut:

  • Semua bit yang ditujukan agar digunakan oleh network identifier diset ke nilai 1.
  • Semua bit yang ditujukan agar digunakan oleh host identifier diset ke nilai 0.
Setiap host di dalam sebuah jaringan yang menggunakan TCP/IP membutuhkan sebuah subnet mask meskipun berada di dalam sebuah jaringan dengan satu segmen saja. Entah itu subnet mask default (yang digunakan ketika memakai network identifier berbasis kelas) ataupun subnet mask yang dikustomisasi (yang digunakan ketika membuat sebuah subnet atau supernet) harus dikonfigurasikan di dalam setiap node TCP/IP.

Subnetting dilakukan dengan berbagai alasan, diantaranya:
1.      Untuk efisiensi IP address,alokasi IP address berdasarkan pembagian kelas kurang efisien. Lebih baik jika network kelas misalnay kelas A dibagi beberapa ribu subnet.kemudian setiap subnet dialokasikan menjadi LAN. Hal tersebut akan membuat lebih efisien.
2.      Untuk menjebatani perbedaan topologi fisik seringkali digunakan router. Router bekerja dengan cara meneruskan paket antar network yang berbeda. Sehingga untuk mengatasinya kita harus membagi sebuah network menjadi beberapa subnet yang kemudian dihubungkan oleh router.
3.      Untuk memudahkan proses manajemen atau pengaturan security network.
4.      Untuk mengisolasi trafik. Manakala satu host berkomunikasi dengan host lain pada subnet yang sama,pesan broadcast cukup disebarkan diantara anggota subnet dan tidak diteruskan ke subnet yang lain.
Pada subnet mask, bit-bit yang menyatakan network ID diset bernilai 1 sementara host ID diset bernilai 0. Dengan demikian untuk IP kelas A, B, dan C dapat diketahui bahwa subnet masknya adalah seperti berikut,

Kelas IP

Subnet mask

Dalam desimal
A 11111111.00000000.00000000.00000000 255.0.0.0
B 11111111.11111111.00000000.00000000 255.255.0.0
C 11111111.11111111.11111111.00000000 255.255.255.0

Supernetting

Supernetting  adalah proses menggabungkan dua atau lebih blok IP address menjadi satu kesatuan. Jika proses subnetting dapat membagi sebuah network menjadi beberapa subnet, maka supernetting merupakan proses kebalikannya. Supernetting menggabungkan beberapa network yang berdekatan sehingga terbentukalah sebuah supernet. Pada umumnya diterapkan pada network yang cukup besar untuk memudahkan proses rounting. Supernetting disebut juga Classless Inter-Domain Rounting atau CIDR.

Manfaat dari SUPERNETTING, adalah mengupdate router dengan cara efisien, yaitu mengirimkan informasi banyak route dalam satu pemberitahuan sehingga menghemat bandwidth dan meminimalkan pekerjaan router.

VLSM

Vlsm adalah pengembangan mekanisme subneting, dimana dalam vlsm dilakukan peningkatan dari kelemahan subneting klasik, yang mana dalam clasik subneting, subnet zeroes, dan subnet- ones tidak bisa digunakan. selain itu, dalam subnet classic, lokasi nomor IP tidak efisien.

Jika proses subnetting yang menghasilkan beberapa subjaringan dengan jumlah host yang sama telah dilakukan, maka ada kemungkinan di dalam segmen-segmen jaringan tersebut memiliki alamat-alamat yang tidak digunakan atau membutuhkan lebih banyak alamat. Karena itulah, dalam kasus ini proses subnetting harus dilakukan berdasarkan segmen jaringan yang dibutuhkan oleh jumlah host terbanyak. Untuk memaksimalkan penggunaan ruangan alamat yang tetap, subnetting pun diaplikasikan secara rekursif untuk membentuk beberapa subjaringan dengan ukuran bervariasi, yang diturunkan dari network identifier yang sama. Teknik subnetting seperti ini disebut juga variable-length subnetting. Subjaringan-subjaringan yang dibuat dengan teknik ini menggunakan subnet mask yang disebut sebagai Variable-length Subnet Mask (VLSM).

Karena semua subnet diturunkan dari network identifier yang sama, jika subnet-subnet tersebut berurutan (kontigu subnet yang berada dalam network identifier yang sama yang dapat saling berhubungan satu sama lainnya), rute yang ditujukan ke subnet-subnet tersebut dapat diringkas dengan menyingkat network identifier yang asli.

Teknik variable-length subnetting harus dilakukan secara hati-hati sehingga subnet yang dibentuk pun unik, dan dengan menggunakan subnet mask tersebut dapat dibedakan dengan subnet lainnya, meski berada dalam network identifer asli yang sama. Kehati-hatian tersebut melibatkan analisis yang lebih terhadap segmen-segmen jaringan yang akan menentukan berapa banyak segmen yang akan dibuat dan berapa banyak jumlah host dalam setiap segmennya.

Dengan menggunakan variable-length subnetting, teknik subnetting dapat dilakukan secara rekursif: network identifier yang sebelumnya telah di-subnet-kan, di-subnet-kan kembali. Ketika melakukannya, bit-bit network identifier tersebut harus bersifat tetap dan subnetting pun dilakukan dengan mengambil sisa dari bit-bit host.

Tentu saja, teknik ini pun membutuhkan protokol routing baru. Protokol-protokol routing yang mendukung variable-length subnetting adalah Routing Information Protocol (RIP) versi 2 (RIPv2), Open Shortest Path First (OSPF), dan Border Gateway Protocol (BGP versi 4 (BGPv4). Protokol RIP versi 1 yang lama, tidak mendukungya, sehingga jika ada sebuah router yang hanya mendukung protokol tersebut, maka router tersebut tidak dapat melakukan routing terhadap subnet yang dibagi dengan menggunakan teknik variable-length subnet mask.

Perhitungan IP Address menggunakan metode VLSM adalah metode yang berbeda dengan memberikan suatu Network Address lebih dari satu subnet mask. Dalam penerapan IP Address menggunakan metode VLSM agar tetap dapat berkomunikasi kedalam jaringan internet sebaiknya pengelolaan networknya dapat memenuhi persyaratan :
  1. Routing protocol yang digunakan harus mampu membawa informasi mengenai notasi prefix untuk setiap rute broadcastnya (routing protocol : RIP, IGRP, EIGRP, OSPF dan lainnya, bahan bacaan lanjut protocol routing : CNAP 1-2)
  2. Semua perangkat router yang digunakan dalam jaringan harus  mendukung metode VLSM yang menggunakan algoritma penerus packet informasi.
Penerapan VLSM


Contoh 1:
 
130.20.0.0/20
Kita hitung jumlah subnet terlebih dahulu menggunakan CIDR, maka
didapat
11111111.11111111.11110000.00000000 = /20
Jumlah angka binary 1 pada 2 oktat terakhir subnet adalah4 maka
Jumlah subnet = (2x) = 24 = 16
Maka blok tiap subnetnya adalah :
Blok subnet ke 1 = 130.20.0.0/20
Blok subnet ke 2 = 130.20.16.0/20
Blok subnet ke 3 = 130.20.32.0/20
Dst… sampai dengan
Blok subnet ke 16 = 130.20.240.0/20
Selanjutnya kita ambil nilai blok ke 3 dari hasil CIDR yaitu 130.20.32.0 kemudian :
- Kita pecah menjadi 16 blok subnet, dimana nilai16 diambil dari hasil
perhitungan
subnet pertama yaitu /20 = (2x) = 24 = 16
- Selanjutnya nilai subnet di ubah tergantung kebutuhan untuk pembahasan ini kita gunakan /24, maka didapat 130.20.32.0/24 kemudian diperbanyak menjadi 16 blok lagi sehingga didapat 16 blok baru yaitu :
Blok subnet VLSM 1-1 = 130.20.32.0/24
Blok subnet VLSM 1-2 = 130.20.33.0/24
Blok subnet VLSM 1-3 = 130.20.34.0/24
Blok subnet VLSM 1-4 = 130.20.35.0/24
Dst… sampai dengan
Blok subnet VLSM 1-16 = = 130.20.47/24
- Selanjutnya kita ambil kembali nilai ke 1 dari blok subnet VLSM 1-1 yaitu
130.20.32.0 kemudian kita pecah menjadi 16:2 = 8 blok subnet lagi, namun oktat ke 4 pada Network ID yang kita ubah juga menjadi8 blok kelipatan dari 32 sehingga didapat :
Blok subnet VLSM 2-1 = 130.20.32.0/27
Blok subnet VLSM 2-2 = 130.20.32.32/27
Blok subnet VLSM 2-3 = 130.20.33.64/27
Blok subnet VLSM 2-4 = 130.20.34.96/27
Blok subnet VLSM 2-5 = 130.20.35.128/27
Blok subnet VLSM 2-6 = 130.20.36.160/27
Blok subnet VLSM 2-1 = 130.20.37.192/27
Blok subnet VLSM 2-1 = 130.20.38.224/27


Contoh 2:
 
Diberikan Class C network 204.24.93.0/24, ingin di subnet dengan kebutuhan berdasarkan jumlah host: netA=14 hosts, netB=28 hosts, netC=2 hosts, netD=7 hosts, netE=28 hosts. Secara keseluruhan terlihat untuk melakukan hal tersebut di butuhkan 5 bit host(2^5-2=30 hosts) dan 27 bit net, sehingga:
netA (14 hosts): 204.24.93.0/27 => ada 30 hosts; tidak terpakai 16 hosts
netB (28 hosts): 204.24.93.32/27 => ada 30 hosts; tidak terpakai 2 hosts
netC ( 2 hosts): 204.24.93.64/27 => ada 30 hosts; tidak terpakai 28 hosts
netD ( 7 hosts): 204.24.93.96/27 => ada 30 hosts; tidak terpakai 23 hosts
netE (28 hosts): 204.24.93.128/27 => ada 30 hosts; tidak terpakai 2 hosts

Dengan demikian terlihat adanya ip address yang tidak terpakai dalam jumlah yang cukup besar. Hal ini mungkin tidak akan menjadi masalah pada ip private akan tetapi jika ini di alokasikan pada ip public(seperti contoh ini) maka terjadi pemborosan dalam pengalokasian ip public tersebut.

Untuk mengatasi hal ini (efisiensi) dapat digunakan metoda VLSM, yaitu dengan cara sebagai berikut:
  1. Buat urutan berdasarkan penggunaan jumlah host terbanyak (14,28,2,7,28 menjadi 28,28,14,7,2).
  2. Tentukan blok subnet berdasarkan kebutuhan host:
    28 hosts + 1 network + 1 broadcast = 30 –> menjadi 32 ip ( /27 )
    14 hosts + 1 network + 1 broadcast = 16 –> menjadi 16 ip ( /28 )
    7 hosts + 1 network + 1 broadcast = 9 –> menjadi 16 ip ( /28 )
    2 hosts + 1 network + 1 broadcast = 4 –> menjadi 4 ip ( /30 )
Sehingga blok subnet-nya menjadi:
netB (28 hosts): 204.24.93.0/27 => ada 30 hosts; tidak terpakai 2 hosts
netE (28 hosts): 204.24.93.32/27 => ada 30 hosts; tidak terpakai 2 hosts
netA (14 hosts): 204.24.93.64/28 => ada 14 hosts; tidak terpakai 0 hosts
netD ( 7 hosts): 204.24.93.80/28 => ada 14 hosts; tidak terpakai 7 hosts
netC ( 2 hosts): 204.24.93.96/30 => ada 2 hosts; tidak terpakai 0 hosts

Sumber : http://thekiralover.wordpress.com/2010/04/19/vlsm/