Pages

Tampilkan postingan dengan label Diagnosa LAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Diagnosa LAN. Tampilkan semua postingan

Senin, 30 April 2012

Tutorial Konfigurasi Network Firewall ~ Packet Filtering (iptables)

Minna-san! Everyone!
Ini dia, sama dengan posting sebelumnya saya akan berbagi tentang konfigurasi Packet Filtering dengan iptables pada 3 jaringan yang berbeda,
Lihat hasil & cara konfigurasinya yuuuu



Terima kasih, Semoga bermanfaat

Tutorial Konfigurasi Personal Firewall

Minna-san! Everyone!
Sekarang saya akan berbagi tentang konfigurasi Packet Filtering ~ Personal Firewall antar 1 jaringan.
Mungkin berikut yang bisa saya gambarkaan :)


Selamat menonton & mendownload ! :))

Tutorial penerapan Firewall - Packet Filtering (iptables)

Minna-san, Everyone!!!
Sekarang saya akan menunjukan konfigurasi dan hasil dari konfigurasi tersebut :)



Terima kasih, Semoga bermanfaat :))

Tutorial Konfigurasi Dynamic NAT (iptables)

Everyone, Minna-san!, sadayana..
Sekarang saya juga mau berbagi tentang tutorial konfigurasi dynamic NAT.
Pada postingan sebelumnya saya telah sedikit menjelaskan tentang static, sekarang jenis NAT yang dynamic..
Menurut saya Dynamic NAT itu bisa seperti DHCP juga. karena kan kita memasquerade suatu IP dengan 2 atau lebih IP dan ketika kita mengakses bisa menggunakan IP manapun, seperti DHCP begitu deeeh :))




Tonton & download videonya yaaaa, semoga bermanfaat :))

Tutorial Konfigurasi Static NAT (iptables)

Assalamualaikum everyone! Minna-san!
Sekarang saya mau memberikan sebuah video yang amazing, yang akan menuturkan kita tentang STATIC NAT..
Sebelumnya saya akan menjelaskan dulu Static NAT (rfc 2663) itu apa..
NAT (Network Address Translation) adalah suatu pembungkusan (masquerade) suatu IP oleh IP Address lain yang terhubung oleh jaringan lain. Jadi kalo kita menatkan IP local, kita bisa terhubung jaringan lain tanpa harus routing, jadi kaya menumpang gitu deeeh.. Kalo static nya itu termasuk jenis dari NATnya.. Kalo STATIC Nat itu one by one ato fixed address gitu....
Langsung aja deeeh liat videonya untuk liat penerapan STATIC NAT..



Sekian, semoga bermanfaat :)))

Senin, 06 Februari 2012

Istilah dalam Sistem Keamanan Jaringan


1. Hacker
Orang yang secara diam-diam mempelajari sistem yang biasanya sukar di mengerti untuk kemudian mengelolanyadanmen-share hasilujicobayang dilakukannya. Hacker tidak merusak sistem. 

2. Cracker
Sebutan untuk mereka yang masuk ke sistem orang lain dan cracker lebih bersifat destruktif, biasanya di jaringan komputer, mem-bypass password atau lisensi program komputer, secara sengaja melawan keamanan komputer, men-deface (merubah halaman muka web) milik orang lain bahkan hingga men-delete data orang lain, mencuri data dan umumnya melakukan cracking untuk keuntungan sendiri, maksud jahat, atau karena sebab lainnya karena ada tantangan. Beberapa proses pembobolan dilakukan untuk menunjukan kelemahan keamanan sistem.

3. White Hat
Jika seorang "hacker" berhasil dalam usahanya dan sebagai contoh berhasil masuk kedalam sebuah system yang bukan tanggung jawab dia, maka dia akan memberitahukan kepada system administrator mengenai celah keamanan yang terdapat di dalam system tersebut dan
bagaimana cara menutup celah keamanan itu serta cara memperkuat host tersebut (host hardening). 

4. Black Hat
mereka yang menerobos keamanan sistem komputer tanpa ijin, umumnya dengan maksud untuk mengakses komputer-komputer yang terkoneksi ke jaringan tersebut. Istilah cracker diajukan oleh Richard Stallman untuk mengacu kepada peretas dalam arti ini.

5. Script Kiddies
Tingkatan level yang paling rendah, Mereka hanya tahu tentang dasar bagaimana memodifikasi Script atau Program dengan mencari artikel pendukung di internet, forum maupun Youtube. Segala informasi mereka kumpulkan untuk mengubah script yang sudah ada dengan cara coba-coba. Kemampuan mereka dalam membuat atau merusak suatu program tergolong rendah.

6. Elite Hacker
Juga dikenal sebagai 3l33t, 3l337, 31337 atau kombinasi dari itu; merupakan ujung tombak industri keamanan jaringan. Mereka mengerti sistemoperasi luar dalam, sanggup mengkonfigurasi & menyambungkan jaringan secara global. Sanggup melakukan pemrogramman setiap harinya. Sebuah anugrah yang sangat alami, mereka biasanya effisien & trampil,menggunakan pengetahuannya dengan tepat. Mereka seperti siluman dapat memasuki sistem tanpa di ketahui, walaupun mereka tidak akan menghancurkan data-data. Karena mereka selalu mengikuti peraturan yang ada.

7. Vulnerable
Sesuatu yang bertalian dengan sistem komputer yang memungkinkan seseorang mengoperasikan dan menjalankannya dengan benar, atau memungkinkan pihak tak berwenang (bisa hacker) mengambil alih. Ada banyak tipe vulnerability. Ada miskonfigurasi dalam setup service, atau flaw programming service.

8. Security Hole
Merupakan Celah dari keamanan system/ mesin Hal tersebut disebabkan karena adanya kelemahan-kelemahan di dalam konfigurasi suatu sistem (Configuration Vulnerabilities) dll,sehingga dimanfaatkan untuk menyusup ke dalam suatu jaringan komputer tanpa diketahui pengelolanya

9. Bug
sebuah kesalahan, error, kekurangan, atau kegagalan yang sering terjadi pada program komputer sehingga menghambat jalannya program sebagaimana mestinya

10. Exploit
perangkat lunak yang menyerang kerapuhan keamanan (security vulnerability) yang spesifik namun tidak selalu bertujuan untuk melancarkan aksi yang tidak diinginkan. Banyak peneliti keamanan komputer menggunakan exploit untuk mendemonstrasikan bahwa suatu sistem memiliki kerapuhan.

11. Logical Bomb
merupakan program yang dimasukkan ke dalam suatu komputer yang bekerja untuk memeriksa kumpulan kondisi di dalam suatu sistem. Jika kondisi yang dimaksud terpenuhi, maka program akan mengeksekusi perintah yang ada di dalamnya. Program ini berjalan jika ada pemicu. Biasanya pemicunya adalah jika user menjalankan program tertentu atau menekan salah satu tombol keyboard.

12. Penetration Testing
Uji coba yang melakukan verifikasi dari mekanisme perlindungan yang dibuat oleh sistem/Pengujian Terhadap Kelemahan Sistem Informasi Perusahaan 

13. Deface
Deface/Defacing atau cyber grafity secara umum diartikan sebagai aktifitas menodai atau
merubah ubah isi suatu halaman web dengan kalimat , image atau link tertentu yang tidak
ada sangkut pautnya dengan misi web tersebut , Biasanya hacker men-deface suatu
halaman web dengan maksud supaya eksistensinya diketahui oleh khalayak ramai.

14. Dos/DDoS
Denial of Services dan Distributed Denial of Services adalah sebuah metode serangan yang
bertujuan untuk menghabiskan sumber daya sebuah peralatan jaringan komputer sehingga
layanan jaringan komputer menjadi terganggu.

15. Packet Sniffing
Packet Sniffing adalah sebuah metode serangan dengan cara mendengarkan seluruh paket yang lewat pada sebuah media komunikasi, baik itu media kabel maupun radio. Setelah paket-paket yang lewat itu didapatkan, paket-paket tersebut kemudian disusun ulang sehingga data yangdikirimkan oleh sebuah pihak dapat dicuri oleh pihak yang tidak berwenang.

16. IP Spoofing
IP Spoofing adalah sebuah model serangan yang bertujuan untuk menipu seseorang. Serangan
ini dilakukan dengan cara mengubah alamat asal sebuah paket, sehingga dapat melewati
perlindungan firewall dan menipu host penerima data. Hal ini dapat dilakukan karena pada
dasarnya alamat IP asal sebuah paket dituliskan oleh sistem operasi host yang mengirimkan
paket tersebut.

17. Packet FI
Packet Fingerprinting, kita dapat mengetahui peralatan apa saja yang ada dalam sebuah jaringan komputer.

18. Logs.
Seorang system administrator wajib untuk melihat log dari system dari waktu ke waktu. Dengan melihat log maka system administrator dapat melihat aktifitas yang terjadi dan kemungkinan besar dapat melakukan antisipasi apabila terlihat beberapa aktifitas yang mencurigakan terjadi.

19. IDS (Intrusion Detection System)
Satu cara umum melakukan otomatisasi pada pengawasan penyusupan adalah dengan
menggunakan IDS. IDS akan mendeteksi jenis serangan dari "signature" atau "pattern" pada aktifitas jaringan. Bahkan dapat melakukan blokade terhadap traffic yang mencurigakan.

19. Honeypot.
"HoneyPot" adalah server "umpan" yang merupakan pengalih perhatian. Tujuan dari honeypot adalah mereka tidak menjalankan layanan sebagaimana umumnya server tetapi berpura-pura menjalankannya sehingga membiarkan para penyusup untuk berpikir bahwa mereka benar-benar adalah "server" yang sesungguhnya. Honeypot juga bermanfaat untuk melihat tehnik yang digunakan oleh para penyusup untuk dapat masuk kedalam system juga sebagai alat untuk mengumpulkan bukti sehingga para penyusup dapat diproses secara hukum.

20. Wired Equivalent Privacy (WEP).
Tujuan utama dari WEP adalah berusaha untuk memberikan tingkat privasi yang diberikan oleh penggunaan jaringan berbasiskan kabel. Dalam melakukan usaha itu, WEP akan melakukan enkripsi terhadap data-data yang dikirimkan antara dua peralatan jaringan komputer berbasiskan gelombang radio, sehingga data yang dikirimkan tidak dapat dicuri oleh pihak lain. Untuk ini,WEP mempergunakan algoritma stream-cipher RC4 untuk menjaga kerahasiaan data dan CRC-32 sebagai kontrol integritas data yang dikirimkan. Oleh karena ada peraturan pembatasan ekspor teknologi enkripsi oleh pemerintah Amerika Serikat, maka pada awalnya panjang kunci yang dipergunakan hanyalah sepanjang 40 bit. Setelah peraturan tersebut dicabut, maka kunci yang digunakan adalah sepanjang 104 bit.

21. Firewall
Sebuah sistem yang mengizinkan lalu lintas jaringan yang dianggap aman untuk melaluinya dan mencegah lalu lintas jaringan yang tidak aman.

22. Secure Socket Layer (SSL)
Sebuah protokol yang bekerja tepat di bawah sebuah aplikasi jaringan komputer. Protokol ini menjamin keamanan data yang dikirimkan satu host dengan host lainnya dan juga memberikan metode otentikasi, terutama untuk melakukan otentikasi terhadap server yang dihubungi.

23. Authentication
Proses pengenalan peralatan, sistem operasi, kegiatan, aplikasi dan identitas user yang terhubung dengan jaringan komputer.

24. Authorization
Otorisasi-Menyediakan metode untuk kontrol akses remote, termasuk satu kali otorisasi atau otorisasi untuk setiap layanan, per-user daftar account dan profil, dukungan kelompok pengguna, dan dukungan IP, IPX, ARA, dan Telnet. Otorisasi AAA bekerja dengan merakit satu set atribut yang menggambarkan apa pengguna berwenang untuk melakukan.

25. Accounting
Akuntansi-Menyediakan metode untuk mengumpulkan dan mengirimkan informasi keamanan server yang digunakan untuk penagihan, audit, dan pelaporan, seperti identitas pengguna, start dan stop kali, perintah dieksekusi (seperti PPP), jumlah paket, dan jumlah byte. Akuntansi memungkinkan Anda untuk melacak pengguna mengakses layanan serta jumlah sumber daya jaringan yang mereka konsumsi.




Sabtu, 19 November 2011

Routing dalam network

Routing

Jumat, 11 November 2011

Cara Mencari IP Network, Host min, Host max, Broadcast, Hosts/net Dalam Format Decimal


Sebelum kita mulai menghitung, ada cara untuk Mencari IP Network, Host min, Host max, Broadcast, Hosts/net Dalam Format Decimal.

Yaitu : IP address dan subnet mask kita ubah dulu ke bilangan biner. lalu jika telah selesai di AND kan.. Materi AND silahkan Anda lihat di posting blog saya yang lain :)





bit IP  : 0-7. 8-15 . 16-23 . 24-31
net prefix: 8 . 16 . 24 . 32

Classful IP Address:
class A : 1.0.0.0  s/d 126.255.255.255
class B : 128.0.0.0 s/d 191.255.255.255
class C : 192.0.0.0 s/d 223.255.255.255

Netmask default:
class A : /8(netprefix) atau 255.0.0.0
class B : /16(netprefix) atau 255.255.0.0
class C : /24(netprefix) atau 255.255.255.0


Rumusan:
IP = oct1 . oct2 . oct3 . oct4
Netmask = mask_oct1 . mask_oct2 . mask_oct3. mask_oct4
Wildcard = 255.255.255.255 - Netmask
net1 = int(oct1:(256-mask_oct1)x(256-mask_oct1)
net2 = int(oct2:(256-mask_oct2)x(256-mask_oct2)
net3 = int(oct3:(256-mask_oct3)x(256-mask_oct3)
net4 = int(oct4:(256-mask_oct4)x(256-mask_oct4)
Network = net1.net2.net3.net4
Broadcast = Network + Wildcard
Host min = Network + 0.0.0.1
Host max = Broadcast - 0.0.0.1
Host/net = (2^(32-netprefix))-2

Catatan:
Network: nilai oct4 harus genap
Host min: nilai oct4 harus ganjil
Host max: nilai oct4 harus genap
Broadcast: nilai oct4 harus ganjil
Contoh:

1) Nilai netprefix berada dalam range: /24 < netprefix < /32

a) IP = 118.98.176.214/30
32-30=2 -> 2^2=4 -> 256-4=252
Netmask: 255.255.255.252

Wildcard = 255.255.255.255 - 255.255.255.252 = 0.0.0.3
Network:
net1 = int(118:(256-255))x(256-255)  = 118
net2 = int(98:(256-255))x(256-255)  =  98
net3 = int(176:(256-255))x(256-255)  = 176
net4 = int(214:(256-252))x(256-252)  = 212
=>   = 118.98.176.212
Broadcast: 118.98.176.212 + 0.0.0.3 = 118.98.176.215
Host min: 118.98.176.212 + 0.0.0.1   = 118.98.176.213
Host max: 118.98.176.215 - 0.0.0.1   = 118.98.176.214
Hosts/net: (2^(32-30))-2   = 2


b) 118.98.176.214/29

32-29=3 -> 2^3=8 -> 256-8=248
Netmask: 255.255.255.248

Wildcard = 255.255.255.255 - 255.255.255.248 = 0.0.0.7
Network:
net1 = int(118:(256-255))x(256-255)   = 118
net2 = int(98:(256-255))x(256-255)     =   98
net3 = int(176:(256-255))x(256-255)   = 176
net4 = int(214:(256-248))x(256-248)   = 208
=>   = 118.98.176.208
Broadcast: 118.98.176.208 + 0.0.0.7 = 118.98.176.215
Host min: 118.98.176.208 + 0.0.0.1  = 118.98.176.209
Host max: 118.98.176.215 - 0.0.0.1  = 118.98.176.214
Hosts/net: (2^(32-29))-2

2) Nilai netprefix berada dalam range: /16 < netprefix < /24

a) 118.98.176.214/22
24-22=2 -> 2^2=4 -> 256-4=252
Netmask: 255.255.252.0

Wildcard = 255.255.255.255 - 255.255.252.0 = 0.0.3.255
Network:
net1 = int(118:(256-255))x(256-255)  = 118
net2 = int(98:(256-255))x(256-255)  = 98
net3 = int(176:(256-252))x(256-252)  = 176
net4 = int(214:(256-0))x(256-0)   = 118.98.176.0
Broadcast: 118.98.176.0 + 0.0.3.255 = 118.98.179.255
Host min: 118.98.176.0 + 0.0.0.1 = 118.98.176.1
Host max: 118.98.179.255 - 0.0.0.1= 118.98.179.254
Hosts/net: (2^(32-22))-2 = 1022


b) 118.98.176.214/21

24-21=3 -> 2^3=8 -> 256-8=248
Netmask: 255.255.248.0

Wildcard = 255.255.255.255 - 255.255.248.0 = 0.0.7.255
Network:
net1 = int(118:(256-255))x(256-255)   = 118
net2 = int(98:(256-255))x(256-255)     =   98
net3 = int(176:(256-248))x(256-248)   = 176
net4 = int(176:(256-0))x(256-0)   =  0
=> = 118.98.176.0
Broadcast: 118.98.176.0 + 0.0.7.255 = 118.98.183.255
Host min: 118.98.176.0 + 0.0.0.1 = 118.98.176.1

Host max: 118.98.183.255 - 0.0.0.1 = 118.98.183.254
Hosts/net: (2^(32-21))-2= 2046


3) Nilai netprefix berada dalam range: /8 < netprefix < /16

a) 118.98.176.214/14
16-14=2 -> 2^2=4 -> 256-4=252
Netmask: 255.252.0.0

Wildcard = 255.255.255.255 - 255.252.0.0 = 0.3.255.255
Network:
net1 = int(118:(256-255))x(256-255) = 118
net2 = int(98:(256-252))x(256-252)  = 96
net3 = int(176:(256-0))x(256-0)   =  0
net4 = int(214:(256-0))x(256-0)   = 0
=>= 118.96.0.0
Broadcast: 118.96.0.0 + 0.3.255.255 = 118.99.255.255
Host min: 118.96.0.0 + 0.0.0.1 = 118.96.0.1
Host max: 118.99.255.255 - 0.0.0.1 = 118.99.255.254
Hosts/net: (2^(32-14))-2   = 262142


b) 118.98.176.214/13

16-13=3 -> 2^3=8 -> 256-8=248
Netmask: 255.248.0.0

Wildcard = 255.255.255.255 - 255.248.0.0 = 0.7.255.255
Network:
net1 = int(118:(256-255))x(256-255)  = 118
net2 = int(98:(256-248))x(256-248)  = 96
net3 = int(176:(256-0))x(256-0)  = 0
net4 = int(214:(256-0))x(256-0)  = 0
=> = 118.96.0.0

Broadcast: 118.96.0.0 + 0.7.255.255 = 118.103.255.255
Host min: 118.96.0.0 + 0.0.0.1  = 118.96.0.1
Host max: 118.103.255.255 - 0.0.0.1 = 118.103.255.254
Hosts/net: (2^(32-13))-2   = 524286

Kamis, 10 November 2011

Subnetting & Supernetting

Subnet mask adalah istilah teknologi informasi dalam bahasa Inggris yang mengacu kepada angka biner 32 bit yang digunakan untuk membedakan network ID dengan host ID, menunjukkan letak suatu host, apakah berada di jaringan lokal atau jaringan luar.
RFC 950 mendefinisikan penggunaan sebuah subnet mask yang disebut juga sebagai sebuah address mask sebagai sebuah nilai 32-bit yang digunakan untuk membedakan network identifier dari host identifier di dalam sebuah alamat IP. Bit-bit subnet mask yang didefinisikan, adalah sebagai berikut:

  • Semua bit yang ditujukan agar digunakan oleh network identifier diset ke nilai 1.
  • Semua bit yang ditujukan agar digunakan oleh host identifier diset ke nilai 0.
Setiap host di dalam sebuah jaringan yang menggunakan TCP/IP membutuhkan sebuah subnet mask meskipun berada di dalam sebuah jaringan dengan satu segmen saja. Entah itu subnet mask default (yang digunakan ketika memakai network identifier berbasis kelas) ataupun subnet mask yang dikustomisasi (yang digunakan ketika membuat sebuah subnet atau supernet) harus dikonfigurasikan di dalam setiap node TCP/IP.

Subnetting dilakukan dengan berbagai alasan, diantaranya:
1.      Untuk efisiensi IP address,alokasi IP address berdasarkan pembagian kelas kurang efisien. Lebih baik jika network kelas misalnay kelas A dibagi beberapa ribu subnet.kemudian setiap subnet dialokasikan menjadi LAN. Hal tersebut akan membuat lebih efisien.
2.      Untuk menjebatani perbedaan topologi fisik seringkali digunakan router. Router bekerja dengan cara meneruskan paket antar network yang berbeda. Sehingga untuk mengatasinya kita harus membagi sebuah network menjadi beberapa subnet yang kemudian dihubungkan oleh router.
3.      Untuk memudahkan proses manajemen atau pengaturan security network.
4.      Untuk mengisolasi trafik. Manakala satu host berkomunikasi dengan host lain pada subnet yang sama,pesan broadcast cukup disebarkan diantara anggota subnet dan tidak diteruskan ke subnet yang lain.
Pada subnet mask, bit-bit yang menyatakan network ID diset bernilai 1 sementara host ID diset bernilai 0. Dengan demikian untuk IP kelas A, B, dan C dapat diketahui bahwa subnet masknya adalah seperti berikut,

Kelas IP

Subnet mask

Dalam desimal
A 11111111.00000000.00000000.00000000 255.0.0.0
B 11111111.11111111.00000000.00000000 255.255.0.0
C 11111111.11111111.11111111.00000000 255.255.255.0

Supernetting

Supernetting  adalah proses menggabungkan dua atau lebih blok IP address menjadi satu kesatuan. Jika proses subnetting dapat membagi sebuah network menjadi beberapa subnet, maka supernetting merupakan proses kebalikannya. Supernetting menggabungkan beberapa network yang berdekatan sehingga terbentukalah sebuah supernet. Pada umumnya diterapkan pada network yang cukup besar untuk memudahkan proses rounting. Supernetting disebut juga Classless Inter-Domain Rounting atau CIDR.

Manfaat dari SUPERNETTING, adalah mengupdate router dengan cara efisien, yaitu mengirimkan informasi banyak route dalam satu pemberitahuan sehingga menghemat bandwidth dan meminimalkan pekerjaan router.

VLSM

Vlsm adalah pengembangan mekanisme subneting, dimana dalam vlsm dilakukan peningkatan dari kelemahan subneting klasik, yang mana dalam clasik subneting, subnet zeroes, dan subnet- ones tidak bisa digunakan. selain itu, dalam subnet classic, lokasi nomor IP tidak efisien.

Jika proses subnetting yang menghasilkan beberapa subjaringan dengan jumlah host yang sama telah dilakukan, maka ada kemungkinan di dalam segmen-segmen jaringan tersebut memiliki alamat-alamat yang tidak digunakan atau membutuhkan lebih banyak alamat. Karena itulah, dalam kasus ini proses subnetting harus dilakukan berdasarkan segmen jaringan yang dibutuhkan oleh jumlah host terbanyak. Untuk memaksimalkan penggunaan ruangan alamat yang tetap, subnetting pun diaplikasikan secara rekursif untuk membentuk beberapa subjaringan dengan ukuran bervariasi, yang diturunkan dari network identifier yang sama. Teknik subnetting seperti ini disebut juga variable-length subnetting. Subjaringan-subjaringan yang dibuat dengan teknik ini menggunakan subnet mask yang disebut sebagai Variable-length Subnet Mask (VLSM).

Karena semua subnet diturunkan dari network identifier yang sama, jika subnet-subnet tersebut berurutan (kontigu subnet yang berada dalam network identifier yang sama yang dapat saling berhubungan satu sama lainnya), rute yang ditujukan ke subnet-subnet tersebut dapat diringkas dengan menyingkat network identifier yang asli.

Teknik variable-length subnetting harus dilakukan secara hati-hati sehingga subnet yang dibentuk pun unik, dan dengan menggunakan subnet mask tersebut dapat dibedakan dengan subnet lainnya, meski berada dalam network identifer asli yang sama. Kehati-hatian tersebut melibatkan analisis yang lebih terhadap segmen-segmen jaringan yang akan menentukan berapa banyak segmen yang akan dibuat dan berapa banyak jumlah host dalam setiap segmennya.

Dengan menggunakan variable-length subnetting, teknik subnetting dapat dilakukan secara rekursif: network identifier yang sebelumnya telah di-subnet-kan, di-subnet-kan kembali. Ketika melakukannya, bit-bit network identifier tersebut harus bersifat tetap dan subnetting pun dilakukan dengan mengambil sisa dari bit-bit host.

Tentu saja, teknik ini pun membutuhkan protokol routing baru. Protokol-protokol routing yang mendukung variable-length subnetting adalah Routing Information Protocol (RIP) versi 2 (RIPv2), Open Shortest Path First (OSPF), dan Border Gateway Protocol (BGP versi 4 (BGPv4). Protokol RIP versi 1 yang lama, tidak mendukungya, sehingga jika ada sebuah router yang hanya mendukung protokol tersebut, maka router tersebut tidak dapat melakukan routing terhadap subnet yang dibagi dengan menggunakan teknik variable-length subnet mask.

Perhitungan IP Address menggunakan metode VLSM adalah metode yang berbeda dengan memberikan suatu Network Address lebih dari satu subnet mask. Dalam penerapan IP Address menggunakan metode VLSM agar tetap dapat berkomunikasi kedalam jaringan internet sebaiknya pengelolaan networknya dapat memenuhi persyaratan :
  1. Routing protocol yang digunakan harus mampu membawa informasi mengenai notasi prefix untuk setiap rute broadcastnya (routing protocol : RIP, IGRP, EIGRP, OSPF dan lainnya, bahan bacaan lanjut protocol routing : CNAP 1-2)
  2. Semua perangkat router yang digunakan dalam jaringan harus  mendukung metode VLSM yang menggunakan algoritma penerus packet informasi.
Penerapan VLSM


Contoh 1:
 
130.20.0.0/20
Kita hitung jumlah subnet terlebih dahulu menggunakan CIDR, maka
didapat
11111111.11111111.11110000.00000000 = /20
Jumlah angka binary 1 pada 2 oktat terakhir subnet adalah4 maka
Jumlah subnet = (2x) = 24 = 16
Maka blok tiap subnetnya adalah :
Blok subnet ke 1 = 130.20.0.0/20
Blok subnet ke 2 = 130.20.16.0/20
Blok subnet ke 3 = 130.20.32.0/20
Dst… sampai dengan
Blok subnet ke 16 = 130.20.240.0/20
Selanjutnya kita ambil nilai blok ke 3 dari hasil CIDR yaitu 130.20.32.0 kemudian :
- Kita pecah menjadi 16 blok subnet, dimana nilai16 diambil dari hasil
perhitungan
subnet pertama yaitu /20 = (2x) = 24 = 16
- Selanjutnya nilai subnet di ubah tergantung kebutuhan untuk pembahasan ini kita gunakan /24, maka didapat 130.20.32.0/24 kemudian diperbanyak menjadi 16 blok lagi sehingga didapat 16 blok baru yaitu :
Blok subnet VLSM 1-1 = 130.20.32.0/24
Blok subnet VLSM 1-2 = 130.20.33.0/24
Blok subnet VLSM 1-3 = 130.20.34.0/24
Blok subnet VLSM 1-4 = 130.20.35.0/24
Dst… sampai dengan
Blok subnet VLSM 1-16 = = 130.20.47/24
- Selanjutnya kita ambil kembali nilai ke 1 dari blok subnet VLSM 1-1 yaitu
130.20.32.0 kemudian kita pecah menjadi 16:2 = 8 blok subnet lagi, namun oktat ke 4 pada Network ID yang kita ubah juga menjadi8 blok kelipatan dari 32 sehingga didapat :
Blok subnet VLSM 2-1 = 130.20.32.0/27
Blok subnet VLSM 2-2 = 130.20.32.32/27
Blok subnet VLSM 2-3 = 130.20.33.64/27
Blok subnet VLSM 2-4 = 130.20.34.96/27
Blok subnet VLSM 2-5 = 130.20.35.128/27
Blok subnet VLSM 2-6 = 130.20.36.160/27
Blok subnet VLSM 2-1 = 130.20.37.192/27
Blok subnet VLSM 2-1 = 130.20.38.224/27


Contoh 2:
 
Diberikan Class C network 204.24.93.0/24, ingin di subnet dengan kebutuhan berdasarkan jumlah host: netA=14 hosts, netB=28 hosts, netC=2 hosts, netD=7 hosts, netE=28 hosts. Secara keseluruhan terlihat untuk melakukan hal tersebut di butuhkan 5 bit host(2^5-2=30 hosts) dan 27 bit net, sehingga:
netA (14 hosts): 204.24.93.0/27 => ada 30 hosts; tidak terpakai 16 hosts
netB (28 hosts): 204.24.93.32/27 => ada 30 hosts; tidak terpakai 2 hosts
netC ( 2 hosts): 204.24.93.64/27 => ada 30 hosts; tidak terpakai 28 hosts
netD ( 7 hosts): 204.24.93.96/27 => ada 30 hosts; tidak terpakai 23 hosts
netE (28 hosts): 204.24.93.128/27 => ada 30 hosts; tidak terpakai 2 hosts

Dengan demikian terlihat adanya ip address yang tidak terpakai dalam jumlah yang cukup besar. Hal ini mungkin tidak akan menjadi masalah pada ip private akan tetapi jika ini di alokasikan pada ip public(seperti contoh ini) maka terjadi pemborosan dalam pengalokasian ip public tersebut.

Untuk mengatasi hal ini (efisiensi) dapat digunakan metoda VLSM, yaitu dengan cara sebagai berikut:
  1. Buat urutan berdasarkan penggunaan jumlah host terbanyak (14,28,2,7,28 menjadi 28,28,14,7,2).
  2. Tentukan blok subnet berdasarkan kebutuhan host:
    28 hosts + 1 network + 1 broadcast = 30 –> menjadi 32 ip ( /27 )
    14 hosts + 1 network + 1 broadcast = 16 –> menjadi 16 ip ( /28 )
    7 hosts + 1 network + 1 broadcast = 9 –> menjadi 16 ip ( /28 )
    2 hosts + 1 network + 1 broadcast = 4 –> menjadi 4 ip ( /30 )
Sehingga blok subnet-nya menjadi:
netB (28 hosts): 204.24.93.0/27 => ada 30 hosts; tidak terpakai 2 hosts
netE (28 hosts): 204.24.93.32/27 => ada 30 hosts; tidak terpakai 2 hosts
netA (14 hosts): 204.24.93.64/28 => ada 14 hosts; tidak terpakai 0 hosts
netD ( 7 hosts): 204.24.93.80/28 => ada 14 hosts; tidak terpakai 7 hosts
netC ( 2 hosts): 204.24.93.96/30 => ada 2 hosts; tidak terpakai 0 hosts

Sumber : http://thekiralover.wordpress.com/2010/04/19/vlsm/

Jumat, 21 Oktober 2011

Aturan Dasar Pemilihan network ID dan host ID


Berikut adalah aturan-aturan dasar dalam menentukan network ID dan host ID yang digunakan :

-          Network ID tidak boleh sama dengan 127

Network ID 127 secara default digunakan sebagai  alamat loopback yakni IP address yang digunakan oleh suatu computer untuk menunjuk dirinya sendiri.
-          Network ID dan host ID tidak boleh sama dengan 255
Network ID atau host ID 255 akan diartikan sebagai alamat broadcast. ID ini merupakan alamat yang mewakili seluruh jaringan.

-          Network ID dan Host ID tidak boleh 0

IP address dengan host ID 0 diartikan sebagai alamat Network.alamat network digunakan untuk menunjuk suatu jaringn bukan suatu host.

-          Host ID harus unik dalam suatu network.

Dalam suatu network tidak boleh ada dua host yang memiliki Host ID yang sama

Minggu, 16 Oktober 2011

Struktur IP Address




Struktur IP Address
Sturtur IP Address
Pada IPv4 Alamat IP terdiri dari bilangan biner sepanjang 32 bit yang dibagi atas 4 segmen. Tiap segmen terdiri atas 8 bit yang berarti memiliki nilai desimal dari 0 - 255. Luas area dari alamat IP ( range address ) yang bisa digunakan adalah dari 00000000.00000000.00000000.00000000 sampai dengan 11111111.11111111.11111111.11111111. Jadi, ada sebanyak 232 kombinasi address yang bisa dipakai diseluruh dunia (walaupun pada kenyataannya ada sejumlah IP Address yang digunakan untuk keperluan khusus). Jadi, jaringan TCP/IP dengan 32 bit address ini mampu menampung sebanyak 232 atau lebih dari 4 milyar host. Untuk memudahkan pembacaan dan penulisan, IP Address biasanya direpresentasikan dalam bilangan desimal. Jadi, range address di atas dapat diubah menjadi address 0.0.0.0 sampai address 255.255.255.255. Nilai desimal dari IP Address inilah yang dikenal dalam pemakaian sehari-hari.
2.1 Konversi Bilangan Biner, Desimal dan Hexadecimal
Didalam hitungan matematika kita lebih mengenal bilangan desimal ( 0 – 9 ) dibanding bilangan biner ( 1 dan 0 ) atau hexadecimal ( 0 – F ). Disini akan dijabarkan tentang perubahan dari bilangan desimal ke biner atau dari biner ke hexadecimal. Konversi ini dibuat untuk memudahkan pengguna mengetahui struktur IP yang berbasiskan bilangan biner.
2.1.1 Mengubah bilangan desimal ke biner
Cara menghitung bilangan biner dari bilangan desimal adalah dengan metode membagi bilangan desimal dengan bilangan biner sambil memperhatikan hasil sisa pembagian.
Contoh:
(1)192
196
: 2
=
96
sisa 0
96
: 2
=
48
sisa 0
48
: 2
=
24
sisa 0
24
: 2
=
12
sisa 0
12
: 2
=
6
sisa 0
6
: 2
=
3
sisa 0
3
: 2
=
1
sisa 1
Bilangan biner nya adalah angka sisa akhir dibaca dari bawah keatas, yaitu : 11000000, dan untuk pembuktian konversi angka desimal ini bisa dibalik dengan cara merubahnya kembali menjadi bilangan biner.
2.1.2 Mengubah bilangan biner ke desimal
Cara menghitungnya adalah dengan membuat tabel dan memposisikan bilangan biner dengan satuan decimal sebagai berikut. Kemudian nanti jumlahkan angka desimal tersebut berdasarkan bilangan biner yang dimasukkan.
Contoh 1 :
Binary
1
1
0
0
0
0
0
0
Decimal
128
64
0
16
0
0
0
0
Jika bilangan biner 0 maka decimalnya dihitung 0 tapi jika angkanya 1 maka ia dihitung berdasarkan tabel desimal yang dimaksud. Dari tabel diatas didapatkan bilangan biner yang bernilai 1 tepat berada dikolom desimal 128 dan 64 sedangkan angka 0 disini tidak dihitung maka perhitungannya adalah 128 + 64 = 192.
Jadi Konversi dari bilangan biner 11000000 adalah 192
Contoh 2: tabel dibawah adalah bilangan biner 11111111
Biner
1
1
1
1
1
1
1
1
Decimal
128
64
32
16
8
4
2
1
Maka bilangan desimalnya adalah 128 + 64 + 32 + 16 + 8 + 4 + 2 + 1 = 255
2.1.3 Mengubah bilangan biner ke hexadesimal
Untuk mengubah bilangan biner ke hexadesimal, susun bilangan biner menjadi kelompok 4 bit. Mulai pengelompokkan dari bit dari kanan kekiri. Jika jumlah bit kelompok terakhir tidak cukup, tambahkan 0.
Hexadesimal
Biner
0
0000
1
0001
2
0010
3
0011
4
0100
5
0101
6
0110
7
0111
8
1000
9
1001
A
1010
B
1011
C
1100
D
1101
E
1110
F
1111














3.Pembagian Kelas IP Address
3.2.1IP versi 4 (IPv4)
Kelas IP addressUntuk pembagian kelas IP address saya gunakan standar IPv4 yang terdiri atas 32 bit angka binary. Dapat disimbolkan dengan angka sebagai berikut : Alamat IP yang dimiliki oleh sebuah host dapat dibagi ke dalam dua buah bagian, yakni:
  • Network Identifier atau Network Address (alamat jaringan) yang digunakan khusus untuk mengidentifikasikan alamat jaringan di mana host berada. Semua sistem di dalam sebuah jaringan fisik yang sama harus memiliki alamat Network identifier yang sama. Network identifier juga harus bersifat unik dalam sebuah internetwork. Alamat Network Identifier tidak boleh bernilai 0 atau 255.[2]
  • Host Identifier atau Host address (alamat host) yang digunakan khusus untuk mengidentifikasikan alamat host di dalam jaringan. Nilai Host Identifier tidak boleh bernilai 0 atau 255 dan harus bersifat unik di dalam network identifier di mana ia berada.[2]
Ada 3 kelas address yang utama dalam TCP/IP, yakni kelas A, kelas B dan kelas C. Perangkat lunak Internet Protocol menentukan pembagian jenis kelas ini dengan menguji beberapa bit pertama dari IP Address. Penentuan kelas ini dilakukan dengan cara berikut
1.Kelas A
Struktur kelas A
Ciri-ciri dari kelas A adalah jika bit pertama bernilai 0, kelas ini untuk konfigurasi jaringan yang berskala besar. Dari angka 0 sampai 7 bit berikutnya merupakan bit network dan 24 bit selanjutnya dinamakan bit host. Dengan demikian hanya ada 128 network kelas A, yakni dari nomor 0.xxx.xxx.xxx sampai 127.xxx.xxx.xxx, tetapi setiap network dapat menampung lebih dari 16 juta (2563) host (xxx adalah variabel, nilainya dari 0 s/d 255). Range addressnya mulai dari 1 – 126.
2.Kelas B
Struktur kelas B
Ciri-ciri dari kelas B adalah jika 2 bit pertama bernilai 10, maka 14 bit berikutnya (16 bit pertama) merupakan bit network sedangkan 16 bit terakhir merupakan bit host. Dengan demikian terdapat lebih dari 16 ribu network kelas B (64 x 256), yakni dari network 128.0.xxx.xxx - 191.255.xxx.xxx. Setiap network kelas B mampu menampung lebih dari 65 ribu host (2562). kelas ini untuk konfigurasi jaringan berskala menengah sampai yang berskala besar. Range addressnya mulai dari 128 – 191.
3.Kelas C
Struktur kelas C
Ciri-ciri dari kelas C adalah jika 3 bit pertama bernilai 110, maka 21 bit berikutnya (24 bit pertama) merupakan bit network sedangkan 8 bit terakhir merupakan bit host. Dengan demikian terdapat lebih dari 2 juta network kelas C (32 x 256 x 256), yakni dari nomor 192.0.0.xxx sampai 223.255.255.xxx. Setiap network kelas C hanya mampu menampung sekitar 256 host. kelas ini untuk konfigurasi jaringan berskala kecil. Range addressnya mulai dari 192 – 223.
Selain ke tiga kelas di atas, ada 2 kelas lagi yang ditujukan untuk pemakaian khusus, yakni kelas D dan kelas E. Jika 4 bit pertama adalah 1110, IP Address merupakan kelas D yang digunakan untuk multicast address, yakni sejumlah komputer yang memakai bersama suatu aplikasi (bedakan dengan pengertian network address yang mengacu kepada sejumlah komputer yang memakai bersama suatu network). Salah satu penggunaan multicast address yang sedang berkembang saat ini di Internet adalah untuk aplikasi real-time video conference yang melibatkan lebih dari dua host (multipoint), menggunakan Multicast Backbone (MBone). Kelas terakhir adalah kelas E (4 bit pertama adalah 1111 atau sisa dari seluruh kelas). Pemakaiannya dicadangkan untuk kegiatan eksperimen.
3.2.2 IP versi 6 (IPv6)
Selanjutnya akan dibahas sedikit mengenai IPv6, Berbeda dengan IPv4 yang hanya memiliki panjang 32-bit (jumlah total alamat yang dapat dicapainya mencapai 4,294,967,296 alamat), IPv6 memiliki panjang 128-bit yang total alamatnya mungkin hingga 2128=3,4 x 1038 alamat. Total alamat yang sangat besar ini bertujuan untuk menyediakan ruang alamat yang tidak akan habis (hingga beberapa masa ke depan), dan membentuk infrastruktur routing yang disusun secara hierarkis, sehingga mengurangi kompleksitas proses routing.
IPv6 mengizinkan adanya DHCP Server sebagai pengatur alamat otomatis. Jika dalam IPv4 terdapat dynamic address dan static address, maka dalam IPv6, konfigurasi alamat dengan menggunakan DHCP Server dinamakan dengan stateful address configuration, sementara jika konfigurasi alamat IPv6 tanpa DHCP Server dinamakan dengan stateless address configuration.
Dalam IPv6, alamat 128-bit akan dibagi ke dalam 8 blok berukuran 16-bit, yang dapat dikonversikan ke dalam bilangan heksadesimal berukuran 4-digit. Setiap blok bilangan heksadesimal tersebut akan dipisahkan dengan tanda titik dua (:). Karenanya, format notasi yang digunakan oleh IPv6 juga sering disebut dengan colon-hexadecimal format, berbeda dengan IPv4 yang menggunakan dotted-decimal format. Berikut ini adalah contoh alamat IPv6 dalam bentuk bilangan biner: Untuk menerjemahkannya ke dalam bentuk notasi colon-hexadecimal format, angka-angka biner dibagi ke dalam 8 buah blok berukuran 16-bit:
0010000111011010
0000000011010011
0000000000000000
0010111100111011
0000001010101010
0000000011111111
1111111000101000
1001110001011010


setiap blok berukuran 16-bit tersebut harus dikonversikan ke dalam bilangan heksadesimal dan setiap bilangan heksadesimal tersebut dipisahkan dengan menggunakan tanda titik dua. Hasil konversinya adalah sebagai berikut:
21DA:00D3:0000:2F3B:02AA:00FF:FE28:9C5A